Pages

Kamis, 27 Agustus 2015

Apakah Aku Ada di Dalam Diriku?














Sebuah pertanyaan sederhana, tapi cukup seru untuk direnungkan. Saya mendapat kalimat ini dari fb seseorang, lalu saya mulai kepikiran, setiap saat saya bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini memang saya? Atau orang lain yang berada dalam diri saya?
Meyikapi pertanyaan di atas maka saya mulai untuk memahami diri saya terutama tubuh saya. Setelah 3 hari memang tidak ada yang saya dapatkan, rasanya semakin bingung. Tetapi saya terus mencoba, dan akhirnya saya sadar bahwa tubuh saya ini memang luaaar biasa. Tubuh ini mengirimkan sinyal-sinyal yang harus kita tanggapi secepatnya dengan penanganan yang tepat. Contohnya saja, saya merasa lapar, nah maka saya harus segera makan, jika memang itu sudah jam makan maka saya harus makan makanan yang cukup berat, tetapi jika memang belum jam makan dan saya merasa lapar, saya makan makanan ringan saja. Kasus lain, saya lapar dan saat itu ada hal yang tidak bisa ditinggalkan sehingga saya terpaksa harus menunda makan saya, maka saya katakan kepada perut saya “sabar yaa, saat ini aku belum bisa memenuhi kebutuhanmu, tunggu 1 jam lagi” dan,,, ajaibnya rasa lapar itu hilang, tentu saya harus sadar dan merasakannya. Jadi kesimpulannya, apapun yang saya rasakan, harus segera diberi tindakan yang tepat jika saya tidak mau hal yang negatif terjadi. Kebanyakan orang mengabaikan hal-hal sederhana yang akhirnya menimbulkan musibah. Menunda makan jadi sakit maag, menunda pipis jadi batu ginjal, menunda istirahat penyakit jadi numpuk, menunda tidur pekerjaan jadi ga maksimal, dan masih banyak fakta lainnya. Sinyal yang paling penting menurut saya adalah saat virus mulai menyerang tubuh saya, tampak disana pasti ada perbedaan, pusing-pusing, demam, seperti ada sesuatu di hidung, dsb. Saya bersyukur saya tidak pernah mengalami penyakit yang serius, terakhir kali sakit serius DBD pada saat saya berumur 6 tahun dan tifus pada saat kelas 4 SD. Setelahnya,,, hanya batuk flu, itupun tidak parah. Nampaknya ini adalah dampak positif dari orangtua saya. Saya dilatih untuk merasakan apa yang dialami tubuh saya, jika terasa ada virus yang mampir maka secepat mungkin saya harus minum vitamin. Oke, itu tadi tentang menyadari kesehatan.
Sekarang saya akan menceritakan kesadaran saya pada saat bersama dengan orang lain. Membutuhkan kesadaran tingkat dewa untuk mengetahui apa yang apa yang dikehendaki orang-orang di sekitar saya. Contoh nyatanya, saat teman memiliki problem dan saya sudah tau penyebabnya, jika ingin mengejaknya ngobrol maka saya harus tau apa saja yang harus saya obrolkan dan yang tidak. Jangan sampai orang di sekitar saya merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya. Contoh lain, pada saat melayani sesama, saat menjadi organis tentunya saya harus bermain dengan hati, tidak hanya asal selesai. Lagu harus dimainkan dengan hati, dengan begitu orang yang mendengarkan akan merasa khusuk berdoa dan saya pun merasa puas, nah dari situ saya merasa bahagia.
Saya juga tidak mau menjadi orang lain untuk tujuan tertentu. Banyak orang yang mengidolakan seseorang lalu mengikuti trendnya, ada lagi orang yang naksir dengan orang lain dan berusaha menyukai hal yang disukai si doi, dll. Itu tidak berlaku bagi saya, saya ya saya. Saya percaya saya istimewa dan unik atau aneh, dan saya bangga kok dengan itu. Alangkah indahnya dunia ini jika semua orang menjadi dirinya sendiri dan mampu menciptakan apa yang diinginkan.
Jika saya terus bertanya “apakah aku ada di dalam diriku?” maka saya termotivasi untuk selalu melakukan perbuatan dengan sadar sehingga saya atu apa yang saya perbuat, selain itu pertanyaan ini menjadikan saya untuk terus berbuat baik. Tentunya semua orang menginginkan dirinya untuk selalu baik , dan menurut saya kebaikan itu membutuhkan kesadaran supaya kebaikan itu memang berguna bagi orang-orang sekitar.
Post-it with words I love myself


sumber : http://www.dreamstime.com/stock-photo-post-words-i-love-myself-image13231870

Minggu, 23 Agustus 2015

Mancing

Hari Sabtu, 22 Agustus 2015 kemarin setelah PPL saya pulang ke rumah dan kehangatan keluarga kembali saya rasakan. Masuk rumah langsung diajak Bian ceciblon di kolam ikan kecil yang ada di dalam rumah. Okeee, it's family time,, walaupun capek panas tapi mari kita kebusan.... Setelah itu, ada percakapan saya dengan Keluarga (I: Ibuk, B: Bapak, A: aku) seperti ini :
I : dek, sesuk meluo lomba mancing  nang kali wetan kae
A : mancing? lha pancinge we rusak kok
B : wes tak dandani suk gari mangkat, sue ra mancing wong 2 (dulu saya memang sering memancing dengan bapak, malam hari pun saya di pinggir kali hehe..)
A: lha le ndandani piro:
B: 2 lah, 1 koe, 1 aku.
A : okeeee....
Setelah percakapan ini rasanya mak nyeeessss.
Keesokan harinya saya pun memancing. Dan ini percakapan saya sebelum berangkat :
I : maem sek,,, mengko ngelih...
A : lha emang wes mateng? (biasanya Hari Minggu Ibuk masaknya santai jadi matengnya agak siang)
I : uwiiisss, mbak ut sik masak
Disini saya merasa bahwa keluarga saya memang benar-benar menyayangi saya (sudah lama sadarnya tapi menjadi semakin sadar)
A : pak, lha umpan e opo?
B : jangkrik
A:  lele po gelem jangkrik:
B: delok wae engko
Dan berangkatlah saya ke pinggir kali, ternyata sudah ada banyak orang disana, dan kami pun memilih tempat yang teduh...
Hari pun mulai siang dan panas menyerang, saya melihat Ibuk naik sepedanya dan menghampiri saya :
I : nyo, tak gawakke jus jambu karo topi kepanasen to koe?
(ah,,, Ibuk itu memang baik sekali)
I : ngelih ra dek?
A :  orakk,,, seru kok bu, entuk lumayan akeh...
I : wo yo wis,, nek wis kesel gek bali wae rasah ngoyo,, aku yo wis masak...
saya pun kembali mak nyeeessss.

Momen 2 hari itu sangat berharga bagi saya, saya merasa keluarga itu memang nomer satu. Banyak yang saya dapatkan. Belajar tidak selamanya di tempat formal, tidak harus dengan guru resmi. Semuanya adalah guru dan dimanapun kita bisa belajar kalo kita mau. Momen-momen sederhana yang kita alami setiap hari pasti ada maknanya jika kita mau memaknainya lebih dalam... Dan saya saat ini sedang belajar untuk itu, memaknai segala hal yang terjadi dalam hidup dan menjadikan hidup menjadi sebuah perayaan yang memang harus dijalani dan disyukuri.

PPL (1)


 
sumber gambar :https://agnazgeograph.wordpress.com/2013/02/19/beberapa-predikat-guru-dalam-kurikulum/

PPL (program pengalaman lapangan)  pertama kali mendengarnya sudah membuat deg-degan tingkat dewa. Dan inilah pengalaman saya saat menjalani PPL :
1. Di awal- awal minggu susaaah banget adaptasi, mengingat waktu PPL adalah bulan Juli, dan seperti yang anda ketahui, bulan Juli adalah saat LIBURAN... dan saya sudah harus mandi jam 5, berangkat jam 6, pulang sekolah jam 14.00 (tergantung kebijakan sekolah). Rasanyaa sangat tidak rela meninggalkan liburan...
2. Dalam PPL teman-teman PPL menjadi hal yang sangat penting. Entah keuntungan atau kerugian, saya ber-PPL dengan teman-teman yang sangaaat berbeda sekali pemikirannya mulai dari suku, adat, tempat asal, dsb. Jadi yaaa harus pinter2 adaptasi lah...
3. Harus pinter PDKT sama guru pamong. Kalo yang dapet guru pamong perhatian, mau mengingatkan kapan observasi, kapan ngajar, kamu harus ngapain aja itu mah keuntungan banget. Dan ngenesnya guru pamong saya cueekk... Tiap hari harus dikejar-kejar dan rajin tanya apa aja.... 
4. PPL menguras dompet. Okeee,, untuk yang 1 ini sepertinya semua mahasiswa PPL setuju. Biasanya ngampus cukup jalan kaki,,, lah ini kudu menekan uang makan untuk memberi makan motor kesayangan. Selain itu pasti banyak ngeprint, fotokopi, dll
5. Hari Minggu terasa lebih bermakna. Beruntunglah kalian yang ber-PPL di sekolah dengan 5 hari efektif, nah tempat saya sampe hari sabtu. Jadi hari Minggu adalah hari yang saaangaaaat ISTIMEWA, gunakan hari itu untuk berkumpul dengan teman, keluarga, dan hindari mengerjakan hal yang berbau PPL di hari itu.
 6. Terpaksa merelakan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan. Di saat PPL kita harus berani menolak pekerjaan-pekerjaan sampingan yang terkadang membuat saya sangat membenci PPL. Kegiatan yang terpaksa saya tinggalkan adalah : koor wilayah, 17an di rumah, lebaran di rumah, daan masih banyak agenda lain yang sebenarnya sangat menyenangkan dan tidak pernah saya lewatkan selama ini. Beberapa kegiatan saya ini ada yang menghasilkan pundi-pundi uang, jadi rasanya yaaa mualess banget waktu PPL.
7. Siapkan stok vitamin. PPL sangat menguras emosi jiwa dan raga. Jadi kalo udah ngerasa ada virus yang mampir langsung hajar pake vitamin yang biasa anda konsumsi.
8. Harus berpenampilan office-looking tiap hari... untuk yang 1 ini saya sangat tidak suka. I like free. Nguliah aja cuma pake kaos berkerah dan sendal kalo lagi waras pake kets. Lah ini harus pake rok (bikin ga bebas gerak), kemeja(bikin sumuk), sepatu kerja(kaki saya sempet lecet gegara ini), rambut diikat (selama ini hampir tidak pernah) , dan naik motor pake rok span itu PERJUANGAN BANGET! hmmmm,,, yang biasanya awut-awutan seperti saya harus berjuang mati-matian untuk yang 1 ini.
9. Yang terakhir adalah pintar-pintarlah membagi waktu... Kuliah, ikut berbagai kegiatan kampus itu masih belum ada apa-apanya dibanding dengan PPL. Saya harus menjalani pagi sekolah sore kuliah, bahkan ada yang pagi kuliah siang sekolah sore kuliah lagi.. kebayang kan rasanya kayak apa??? tugas-tugasnya udah pasti seabrek..
10. Ucapkan selamat tinggal sama tidur siangmu. ini gausah dijelasin pasti semua orang udah paham. 
okee,,, sementara itu dulu, lain kali saya posting lagiii pengalaman saya saat PPL