Sebuah
pertanyaan sederhana, tapi cukup seru untuk direnungkan. Saya mendapat kalimat
ini dari fb seseorang, lalu saya mulai kepikiran, setiap saat saya
bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini memang saya? Atau orang lain yang berada
dalam diri saya?
Meyikapi
pertanyaan di atas maka saya mulai untuk memahami diri saya terutama tubuh
saya. Setelah 3 hari memang tidak ada yang saya dapatkan, rasanya semakin
bingung. Tetapi saya terus mencoba, dan akhirnya saya sadar bahwa tubuh saya
ini memang luaaar biasa. Tubuh ini mengirimkan sinyal-sinyal yang harus kita
tanggapi secepatnya dengan penanganan yang tepat. Contohnya saja, saya merasa
lapar, nah maka saya harus segera makan, jika memang itu sudah jam makan maka
saya harus makan makanan yang cukup berat, tetapi jika memang belum jam makan
dan saya merasa lapar, saya makan makanan ringan saja. Kasus lain, saya lapar
dan saat itu ada hal yang tidak bisa ditinggalkan sehingga saya terpaksa harus
menunda makan saya, maka saya katakan kepada perut saya “sabar yaa, saat ini
aku belum bisa memenuhi kebutuhanmu, tunggu 1 jam lagi” dan,,, ajaibnya rasa
lapar itu hilang, tentu saya harus sadar dan merasakannya. Jadi kesimpulannya,
apapun yang saya rasakan, harus segera diberi tindakan yang tepat jika saya
tidak mau hal yang negatif terjadi. Kebanyakan orang mengabaikan hal-hal
sederhana yang akhirnya menimbulkan musibah. Menunda makan jadi sakit maag,
menunda pipis jadi batu ginjal, menunda istirahat penyakit jadi numpuk, menunda
tidur pekerjaan jadi ga maksimal, dan masih banyak fakta lainnya. Sinyal yang
paling penting menurut saya adalah saat virus mulai menyerang tubuh saya,
tampak disana pasti ada perbedaan, pusing-pusing, demam, seperti ada sesuatu di
hidung, dsb. Saya bersyukur saya tidak pernah mengalami penyakit yang serius,
terakhir kali sakit serius DBD pada saat saya berumur 6 tahun dan tifus pada
saat kelas 4 SD. Setelahnya,,, hanya batuk flu, itupun tidak parah. Nampaknya ini
adalah dampak positif dari orangtua saya. Saya dilatih untuk merasakan apa yang
dialami tubuh saya, jika terasa ada virus yang mampir maka secepat mungkin saya
harus minum vitamin. Oke, itu tadi tentang menyadari kesehatan.
Sekarang
saya akan menceritakan kesadaran saya pada saat bersama dengan orang lain. Membutuhkan
kesadaran tingkat dewa untuk mengetahui apa yang apa yang dikehendaki
orang-orang di sekitar saya. Contoh nyatanya, saat teman memiliki problem dan
saya sudah tau penyebabnya, jika ingin mengejaknya ngobrol maka saya harus tau
apa saja yang harus saya obrolkan dan yang tidak. Jangan sampai orang di
sekitar saya merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya. Contoh lain, pada saat
melayani sesama, saat menjadi organis tentunya saya harus bermain dengan hati,
tidak hanya asal selesai. Lagu harus dimainkan dengan hati, dengan begitu orang
yang mendengarkan akan merasa khusuk berdoa dan saya pun merasa puas, nah dari
situ saya merasa bahagia.
Saya
juga tidak mau menjadi orang lain untuk tujuan tertentu. Banyak orang yang
mengidolakan seseorang lalu mengikuti trendnya, ada lagi orang yang naksir
dengan orang lain dan berusaha menyukai hal yang disukai si doi, dll. Itu tidak
berlaku bagi saya, saya ya saya. Saya percaya saya istimewa dan unik atau aneh,
dan saya bangga kok dengan itu. Alangkah indahnya dunia ini jika semua orang
menjadi dirinya sendiri dan mampu menciptakan apa yang diinginkan.
Jika
saya terus bertanya “apakah aku ada di dalam diriku?” maka saya termotivasi
untuk selalu melakukan perbuatan dengan sadar sehingga saya atu apa yang saya
perbuat, selain itu pertanyaan ini menjadikan saya untuk terus berbuat baik. Tentunya
semua orang menginginkan dirinya untuk selalu baik , dan menurut saya kebaikan
itu membutuhkan kesadaran supaya kebaikan itu memang berguna bagi orang-orang
sekitar.
sumber :
http://www.dreamstime.com/stock-photo-post-words-i-love-myself-image13231870
0 komentar:
Posting Komentar